816Agent
816WIN

Senin, 29 Juni 2020

Jangan Mudah Klaim, Obat Covid-19 Harus Penuhi Standar Kesehatan & Lolos Uji Klinis

Jangan Mudah Klaim, Obat Covid-19 Harus Penuhi Standar Kesehatan & Lolos Uji Klinis

Hingga kini belum ditemukan obat yang pasti bisa menyembuhkan seseorang dari Covid-19. Meski demikian, banyak macam obat, jamu maupun herbal yang diklaim bisa menyembuhkan Covid-19.
Ketua Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) Prof Dr dr Sukman Tulus Putra meminta berbagai pihak tak mudah melakukan klaim obat tertentu bisa menyembuhkan Covid-19. Dalam diskusi virtual yang digelar YLKI kemarin, dia juga meminta agar obat yang belum dinyatakan lolos uji klinis tak digunakan dulu.
"Karena untuk register suatu obat memerlukan trial cukup valid. Sepengetahuan saya hingga saat ini belum ada obat Covid-19," katanya.
Menurutnya, di seluruh dunia belum ada obat yang betul-betul dapat digunakan untuk menyembuhkan Covid-19. Karenanya, dia meminta agar tak gampang mengklaim menemukan obat Covid-19.
"Karena tanpa lolos uji klinis tapi memaksakan untuk memproduksi dan memberikan ke pasien akan masuk pada pelanggaran disiplin dan etik. Fokus dan dukungan terhadap penelitian perlu kita berikan. Namun perlu diingatkan kepada yang melakukan penelitian jangan cepat-cepat mengklaim tanpa bukti dan lolos tahapan uji pra-klinis dan kemudian uji klinis yang pada dasar memerlukan waktu cukup lama demi efektifitas, manfaat dan keamananan dari obat tersebut terhadap manusia atau pasien yang mengkonsumsinya," katanya.
Pakar Epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI), Dr Pandu Riono mengingatkan semua pihak meski dalam kondisi darurat, semua tugas yang diamanatkan UU dalam prosedur pembuatan obat harus dipenuhi.
"Jadi, walaupun dalam situasi emergency, harus tetap memperhatikan keselamatan publik. Janganlah melampaui batas Tupoksi, siapa pun, karena ini berbasis ilmu pengetahuan," katanya.
Menurutnya, semua pihak harus mengikuti prosedur untuk mengklarifikasi keabsahan obat tertentu. Sebab sudah terbukti ada sebagian obat yang diklaim sebagai obat Covid-19, ada yang bermanfaat dan ada juga tidak. Jangan sampai hal ini membuat publik bingung.
"Orang bilang ini riset, tapi bagaimana metodologinya? Bagaimana mungkin temuan dari sel langsung loncat menjadi clean bagi manusia. Seharusnya BPOM menyatakan ini belum bisa. Tidak perlu basa-basi," katanya.
Dia juga menyoroti soal rapid test yang masif dilakukan di tanah air. Menurutnya, rapid test tidak ada manfaatnya untuk merespons pandemi.
Sebab yang harus ditingkatkan adalah kemampuan PCR atau tes cepat antigen, bukan antibodi. "Kita harus fokus, dan jangan kemana-mana. Sebab pada masa pandemi saat ini, sekitar 70-80 persen orientasinya adalah public health, bukan klinik dan pengobatan. Tidak ada cara-cara atau jalan pintas untuk mengklaim sesuatu. Ini harus dipatuhi," kataya.