816Agent
816WIN

Bandar Bola 816agent

Bandar Bola 816agent

Judi Bola

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Prediksi Bola 816Agent

Prediksi Bola

Tampilkan postingan dengan label berita anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita anak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 September 2019

Masalah dengan Lingkungan Sekitar Bisa Sebabkan Anak Alami Masalah Pencernaan

Masalah dengan Lingkungan Sekitar Bisa Sebabkan Anak Alami Masalah PencernaanSelama ini, masalah pencernaan sering hanya dikaitkan dengan makanan yang dikonsumsi. Namun kondisi tertekan yang dialami anak ternyata bisa memicu gangguan pencernaan sindrom iritasi usus besar (Irritable Bowel Syndrome/IBS).
Penyakit pencernaan ini memang sangat erat kaitannya dengan psikis dan mental. Dokter spesialis anak konsultan Ariani Dewi Widodo menyebut, anak yang bertengkar dengan teman maupun dibully di sekolah menjadi stressor, yang mengarah pada kejadian sindrom iritasi usus besar.

Stressor adalah situasi yang penuh dengan tekanan. Hal ini meningkatkan risiko penyakit yang dialami saat hal-hal tersebut benar-benar mengganggu kehidupan.
"Anak yang di-bully di sekolah, guru terlalu galak, dan anak merasa kesulitan belajar dan bergaul di sekolah termasuk stressor yang bisa munculkan gangguan pencernaan IBS," jelas Ariani dalam siaran Live Streaming Radio Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.
Situasi anak yang pindah rumah dan sekolah juga bisa menjadi stressor. Anak bisa saja merasa tertekan dan belum terbiasa atau beradaptasi dengan hal-hal baru di sekitarnya.
Gejala sindrom iritasi usus besar pada anak berupa sering sakit perut atau perut terasa tidak nyaman seminggu sekali selama minimal dua bulan. Orangtua perlu memerhatikan dengan teliti bila anak mengalami kondisi tersebut.
Sindrom ini memang menyebabkan sakit perut dan tidak nyaman tapi sebenarnya tidak ditemukan adanya kelainan pada usus besar maupun bagian lain pada sistem pencernaan.
"Biasanya gejala IBS akan berkurang bila faktor-faktor yang menyebabkan stressor pada anak berhasil ditangani," lanjut Ariani yang sehari-hari berpraktik di RS Anak dan Bunda Harapan Kita Jakarta.

Sabtu, 31 Agustus 2019

Apakah Perlu Memakaikan Pelindung Telinga pada Bayi Ketika Berada di Tempat Bising?

Apakah Perlu Memakaikan Pelindung Telinga pada Bayi Ketika Berada di Tempat Bising?Pendengaran terutama milik bayi merupakan hal yang perlu dilindungi dan dijaga baik-baik. Terkait melindungi telinga ini, sebagian orangtua memilih untuk memakaikan pelindung telinga atau earmuff pada bayi mereka ketika berada di tempat bising.
Istri dari pebulutangkis Marcus Fernaldi Gideon ketika membawa putra pertamanya Junior untuk menonton pertandingan Indonesia Open 2019 di Istora Senayan, Jakarta beberapa waktu lalu juga memakaikan earmuff.
"Saya pakein (earmuff) buat Junior buat mengurangi jumlah kebisingan di Istora karena untuk bayi sistem pendengarannya masih sensitif," kata Agnes dalam pesan singkat ke Liputan6.com.
Menurut dokter Hably Warganegara SpTHT-KL ada dua alasan orangtua memakaikan earmuff ke bayi. Pertama, orangtua harus menghadiri acara tapi tidak bisa meninggalkan anak di rumah. Sehingga mau tak mau, perlu membawa sang buah hati.
"Namun, orangtua itu tidak mau bayi terganggu tidurnya, jadi dipakaikan earmuff. Jadi kalau tidak pakai earmuff bayi akan terbangun," kata Hably dalam pesan teks ke Liputan6.com.
Alasan kedua yakni orangtua mencegah bayi terpapar kebisingan terlalu lama. Bila tidak pakai earmuff bisa terpapar bising dalam waktu lama apalagi bila volumenya tinggi.
Tidak tepat bila suara bising bisa memengaruhi otak bayi. Melainkan, paparan suara bising terlalu lama bisa memengaruhi rumah siput sang buah hati.
"Rumah siput adalah organ pendengaran yang bertugas menerima suara dan mengalirkannya melalui saraf pendengaran ke otak. Jad, kalau organ pendengarannya rusak (fungsi pendengaran menurun), menyebabkan bayi/anak tidak dapat menerima suara. Sehingga tidak berkembang," kata Hably.

Jumat, 30 Agustus 2019

Sejumlah Penyebab Terjadinya Gangguan Pencernaan yang Sering Dialami Anak-Anak

Sejumlah Penyebab Terjadinya Gangguan Pencernaan yang Sering Dialami Anak-AnakPada anak-anak, terdapat sejumlah gangguan pencernaan yang sering terjadi. Terdapat sejumlah gangguan pencernaan yang sering terjadi pada anak dan membuat orangtua khawatir.
Dokter spesialis anak konsultan Ariani Dewi Widodo menyampaikan, gangguan pencernaan berupa diare, konstipasi (sembelit) yang mana sulit buang air besar (BAB) termasuk paling sering terjadi.
"Biasanya anak itu diare dan sembelit. Yang sering juga dialami anak yakni muntah, sakit perut, dan rasa tidak selesai BAB (BAB tidak tuntas). Pola BAB tidak teratur seperti kadang konstipasi, kadang diare dan kondisi ini berubah-ubah. Nah, itu semua keluhan yang seringkali membuat orangtua datang ke dokter pencernaan," papar Ariani dalam siaran Live Streaming Radio Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.
Penyebab gangguan pencernaan pada anak terkait sistem yang mengatur saluran cerna dan otak. Jika saraf antara saluran cerna dan otak terganggu, maka anak akan merasakan sensasi nyeri dan kembung.
"Faktor lain, bagaimana motilitas atau gerakan saluran cernanya. Kalau terlalu lambat dan lemah bisa menyebabkan sembelit, sedangkan pergerakan saluran cerna yang cepat dapat menyebabkan diare," lanjut Ariani.
Yang perlu diperhatikan, gangguan pencernaan pada anak yang sering terjadi berhubungan dengan kondisi sistem saluran cerna sendiri. Sistem saluran cerna anak masih belum terbentuk sempurna layaknya dewasa.
"Pertama, sel-sel usus pada anak biasanya masih renggang. Akibatnya, bila ada kuman penyakit akan mudah masuk ke tubuh melalui sel yang renggang tersebut. Kedua, lapisan mukus atau lapisan lendir di atas usus masih tipis. Artinya, ada bagian di usus yang tidak terlindungi sehingga anak rentan kena penyakit," Ariani menambahkan.
"Ketiga, daya tahan tubuh anak belum terlalu matang. Ini karena sel-sel yang renggang tadi belum terbentuk sempurna sehingga anak mudah kena penyakit dan terpapar alergen (pemicu alergi)."
Sistem saluran cerna anak mulai terbentuk cukup baik saat anak berusia di atas tahun. Tapi tergantung anaknya.
"Ada juga beberapa anak usia 3 tahun yang pencernaannya belum cukup baik terbentuk," ujar Ariani yang sehari-hari berpraktik di RS Anak dan Bunda Harapan Kita Jakarta.

Rabu, 28 Agustus 2019

5 Tindakan yang Bisa Dilakukan untuk Atasi Diare pada Anak

5 Tindakan yang Bisa Dilakukan untuk Atasi Diare pada AnakDiare merupakan salah satu penyakit yang biasa menyerang siapa pun termasuk anak-anak. Pada anak-anak, masalah kesehatan ini bisa lebih berisiko karena bisa berujung pada kematian.
Diare bisa mematikan karena menyebabkan dehidrasi. Artinya tubuh anak kekurangan cairan. Dan kehilangan beberapa persen saja bisa mengancam keadaan jiwanya, ucap Ade Djanwardi Pasaribu, dokter spesialis anak dan konsultan gastrohepatologi dalam Live Instagram Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Ketika diare, penanganan dengan cepat dan tepat sangat dibutuhkan. Berikut lima penanganan pertama yang dapat Anda lakukan jika buah hati terkena diare.

Anak yang terkena diare harus tetap diberikan asupan yang cukup. Orang tua harus menjaga kebutuhan gizi anak agar tetap terpenuhi. Tetapi, bukan berarti terus-menerus memberikan air putih.
“Cairan memang hilang, tapi bisa digantikan dengan teh manis atau kuah sup. Bisa juga diberikan apel atau pisang,” jelas Ade.

Jika masih menyusui, Anda dapat memberikan anak ASI yang cukup. Selain itu, Anda juga dapat memberikan oralit. Oralit berfungsi untuk mengatasi kekurangan mineral dalam tubuh.
“Zaman dulu kita biasa membuat oralit sendiri, namun sekarang tidak dianjurkan. Karena kalau buat sendiri kandungan garam atau gulanya tidak seimbang untuk mengganti cairan,” jelas Ade.

Zinc memang tidak bisa menghentikan diare, namun zinc dapat berfungsi mengganti sel yang rusak akibat diare. Selain itu, zinc juga dapat mencegah timbulnya diare berkelanjutan.
“Biasanya pasien harus meminum ini selama sepuluh hari. Walaupun sudah sembuh, dianjurkan untuk tetap minum. Karena setelah diare, sel belum langsung kembali normal,” ucap Ade.

Perlu diketahui, antibiotik tidak selalu diperlukan ketika Anda terkena diare. Antibiotik boleh diberikan jika ada infeksi yang terjadi ketika diare. Infeksi tersebut biasanya ditandai dengan keluarnya darah ketika BAB. Dan, antibiotik yang diberikan harus sesuai dengan resep dokter.

Dehidrasi saat diare dapat menyebabkan anak kehilangan nyawa. Jadi pastikan cairan yang diberikan cukup dan tepat.
“Dehidrasi berat mengacaukan semuanya, pembuluh darah pun jadi sulit untuk ditemukan. Jadi, jangan sampai dehidrasi berat,” tandas Ade.

Minggu, 26 Mei 2019

Agar Si Buah Hati Semangat Berpuasa, Ajak Ia Sahur dengan Trik Ini

Agar Si Buah Hati Semangat Berpuasa, Ajak Ia Sahur dengan Trik IniJakarta , Saat berpuasa, Si Buah Hati pasti akan mengalami beberapa tantangan. Salah satunya adalah perubahan jadwal makan yang disesuaikan dengan waktu sahur dan berbuka.

Hal ini pun pasti menjadi tantangan bagi Bunda untuk membuat Si Buah Hati semangat berpuasa. Selain itu, Bunda juga pasti mengalami tantangan lainnya seperti membangunkan Si Buah Hati untuk sahur.

Di awal puasa, mungkin Si Buah Hati akan kaget karena tidak terbiasa bangun sepagi itu. Namun Bunda bisa menerapkan beberapa tips berikut agar Si Buah Hati semangat bangun untuk sahur.

Jelaskan Tentang Puasa
Jika ini kali pertama Si Buah Hati berpuasa, Bunda lebih baik mempersiapkan ia untuk berpuasa dari jauh-jauh hari sebelum bulan puasa tiba. Salah satunya adalah dengan menjelaskan pada Si Buah Hati jam berapa ia harus bangun untuk memakan sahur.

Lalu jelaskan juga bahwa setelah itu ia sudah tidak boleh lagi makan dan minum sampai waktu berbuka tiba. Bunda juga bisa memberitahu hal ini berulang kali pada Si Buah Hati sampai ia paham dan siap menjalani puasa.

Ajak Si Buah Hati Tidur Lebih Awal
Bunda, biasanya Si Buah Hati akan susah bangun untuk sahur kalau ia tidur terlalu larut pada malam hari. Karena itu, Bunda lebih baik mengajaknya tidur lebih awal agar ia bisa lebih mudah dibangunkan saat sahur. Si Buah Hati mungkin kadang susah untuk disuruh tidur lebih awal, tapi Bunda perlu bersikap tegas padanya dan jelaskan bahwa ia perlu tidur lebih awal agar bisa bangun untuk sahur.

Pasang Alarm Bersama
Sebelum tidur, Bunda juga bisa mengajak Si Buah Hati untuk mengatur sendiri jam berapa ia akan bangun waktu sahur dengan bersama-sama memasang alarm. Namun pastikan ia tidak memasang alarm melewati waktu sahur. Nanti saat Bunda membangunkannya, Bunda bisa bilang pada Si Buah Hati  bahwa itulah jam yang sudah ia tentukan sendiri dan ia harus bangun.

Bangunkan Si Buah Hati dengan Lembut
Saat sahur, bangunkan Si Buah Hati dengan lembut ya, Bunda. Bunda bisa mengusap kepalanya atau menepuk-nepuk punggungnya sambil mengajaknya bangun. Kalau Si Buah Hati tidak mau bangun juga, hindari membangunkannya dengan paksa karena bisa membuat mood Si Buah Hati menjadi turun dan ia akan semakin sulit lagi diajak sahur.

Beri Si Buah Hati Reward
Salah satu cara agar Si Buah Hati lebih termotivasi menjalankan puasa, termasuk sahur adalah dengan memberikan reward, Bun. Berikan hadiah berupa mainan yang paling ia inginkan atau tiket jalan-jalan agar Si Buah Hati makin semangat untuk menjalankan puasanya dengan maksimal. Tapi, Bun, reward ini tentu saja baru bisa ia dapatkan kalau ia bisa rutin menjalani puasa, salat, tarawih, hingga melaksanakan sahur.

Mudah kan, Bunda? Coba terapkan tips tadi agar Si Buah Hati selalu semangat bangun untuk sahur. Tapi selain membangunkannya, pastikan Bunda juga menyiapkan menu sahur yang ia sukai dan mengandung banyak nutrisi. Sebab kalau nutrisi Si Buah Hati terpenuhi, ia bisa menjalankan puasa dengan lancar dan bisa beraktivitas di sekolah dengan penuh semangat meskipun ia berpuasa.

Agar kebutuhan nutrisi harian Si Buah Hati selama berpuasa selalu terpenuhi, bantu lengkapi dengan menyiapkan segelas DANCOW FortiGro saat sahur dan sebelum tidur. Dengan begitu, Si Buah Hati akan tetap semangat dan tidak lemas selama berpuasa dan tetap fokus belajar di sekolah!

Mau tahu tips lain tentang cara mendampingi Si Buah Hati saat berpuasa? Yuk, Bunda, follow dan cek langsung di Instagram 

Selasa, 26 Februari 2019

Ciri-ciri Ayah Milenial saat Punya Bayi, Nomor 4 Patut Diacungi Jempol

Ilustrasi ayah dan anak.Belakangan isu soal generasi milenial banyak mencuat di berbagai topik, dari digital, politik, kesehatan hingga parenting. Generasi yang lahir pada tahun 1980 hingga 2000-an ini umumnya melek teknologi digital dan internet. Hal itu membuat generasi ini berpikiran terbuka dengan pengetahuan lebih luas karena mudah mengakses informasi.


Dalam dunia parenting, milenial yang berusia 30-an saat menjadi ayah juga punya karekteristik yang unik. Biasanya para ayah milenial ini melakukan peran mereka bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan finansial keluarga, tapi juga mereka merasa wajib mendampingi pasangan, bahkan mengasuh anak. 

Lalu seperti apa sih karakter ayah milenial yang dimaksud. dan apakah Anda salah satunya? Dilansir laman Parentalk.id, berikut fakta-faktanya.
Menurut riset dari Baby Center, 88 persen ayah milenial merasa perlu menjadi sosok ayah yang sempurna. Mereka mengusahakannya dengan banyak belajar dan memiliki quality time bersama anak. Jadi, ayah bisa lebih berperan dalam mengasuh si kecil.
Tapi para ayah mengaku hal ini agak menantang. Apalagi mereka harus mengusahakan work life balance. Di satu sisi, mereka ingin berlama-lama bersama anak. Di sisi lain, mereka juga harus kerja keras demi mendapat pemasukan keluarga.
Ayah milenial tak segan mengedukasi dirinya. Dalam Think with Google disebutkan, 7 dari 10 ayah milenial mencari info parenting lewat gadget saat mereka sedang senggang. Entah itu dengan cara googling, via media sosial atau melihat video di YouTube. Items yang dicari ayah biasanya seputar kehidupan sehari-hari bersama bayi.
Seperti kenapa bayi menangis, bagaimana cara membuat bayi tertawa, tempat yang kids friendly atau membuka e-commerce untuk membeli kebutuhan bayi. Selain tambah pintar soal parenting, hal ini juga dilakukan ayah agar bisa membantu pasangannya dalam mengasuh anak.
Survei dari Baby Center menunjukkan, 87 persen ayah milenial mau menghabiskan waktu bermain bareng anak-anaknya. Mereka juga mengalokasikan waktu khusus, misalnya untuk sekadar jalan-jalan ke taman dekat rumah atau liburan bareng keluarganya.
Karenanya tak heran jika sekarang Anda bisa melihat para ayah menemani anak di playground, menjemput di daycare, didandani ala princess oleh putrinya atau menikmati bongkar-bongkar mobil bersama anak laki-lakinya.
Ayah milenial lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengurus anak dibandingkan ayah dari generasi sebelumnya. Penelitian Pew Research di tahun 2015 menunjukkan, rata-rata ayah menghabiskan waktu sekitar 9 jam per minggu untuk mengurus anak-anak.
Mereka mau membantu ibu memandikan anak, menyuapi, mengajak main dan aktivitas lainnya. Tapi 48 persen di antara para ayah merasa waktu mereka buat keluarga belum cukup banyak. Di sisi lain, mereka mengaku, ibu masih lebih baik dalam hal mengurus anak-anak.
Kalau dahulu, ada anggapan ‘ayah bekerja, sementara ibu mengurus anak dan rumah tangga’. Tapi untuk ayah milenial, gender stereotype semacam ini sudah jadi cerita lama. Dalam situs Romper disebutkan, ayah masa kini sudah tidak bersikap saklek atau terpaku dengan pembagian tugas laki-laki dan perempuan. Mereka tak akan segan mengurus pekerjaan rumah, belanja ke supermarket dan mengerjakan tugas-tugas lain yang biasa dikerjakan para ibu.
Kebanyakan ayah milenial lebih menghargai keberadaan istri atau pasangannya. Mereka sadar sulitnya pekerjaan ibu dalam mengurus anak-anak dan semua kebutuhan rumah tangga. Para ayah juga lebih menghargai kebutuhan pasangan, misalnya saat istrinya butuh me time, ayah bakal sukarela gantian menjaga si Kecil.
Selain itu, ayah juga memberi keleluasaan ibu untuk aktualisasi diri. Seperti dengan membolehkan pasangannya bekerja atau melakukan sesuatu di samping mengurus anak. Ayah milenial menyadari pentingnya menghargai dan memberi dukungan ke pasangan, demi kebahagiaan mereka bersama.
Jika diperhatikan belakangan ada banyak ayah milenial yang bangga bercerita tentang perjalanan mereka sebagai ayah. Buktinya, tidak sedikit ayah yang mem-posting foto anaknya dan bercerita lewat caption yang mereka tulis. Atau saat ia bertemu teman-temannya, ada saja selipan cerita tentang anak dan keluarga di tengah obrolan mereka. Bagi mereka menjadi seorang ayah adalah sebuah identitas.(rna)

Jumat, 22 Februari 2019

Tumbuh Kembang Anak Itu Tak Sama Mom, Jadi Stop Membandingkannya

Anak

Jakarta Orangtua seringkali membanding-bandingkan tumbuh kembang anaknya dengan anak orang lain. Tidak sedikit orangtua yang merasa paling benar sehingga sering menganggap pola asuh yang dilakukan orangtua lainnya kurang tepat.
Pada dasarnya, tumbuh kembang setiap anak itu tak sama Mom. Jadi please stop membandingkan antara satu dan lainnya. Ketika mendapati anak kita punya berat badan ideal dan kesehatannya mengesankan sementara kita mendapati anak orang lain badannya kurus dan lebih mudah sakit, ini tak melulu karena orangtuanya punya pola asuh atau merawatnya dengan cara yang kurang tepat.

Ada anak-anak yang meski sudah mendapat perawatan terbaik tapi memiliki daya tahan tubuh yang kurang mengesankan. Ada pula anak-anak yang dirawat dengan biasa saja dan tak ada yang istimewa darinya, ia justru tumbuh dan berkembang dengan sangat baik. Para ahli kesehatan menyebutkan jika setiap anak memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda.

Mulai dari fase anak tengkurap, duduk, berjalan hingga lainnya, setiap anak punya fasenya sendiri-sendiri. Ada yang fasenya sangat cepat dan ada pula yang cukup terlambat. Meski mengalami kertelambatan, bukan berarti anak tersebut mengalami masalah atau apa. Jadi, tetap tenang dan jangan lagi membanding-bandingkan Mom.

Setiap orangtua pasti tahu apa yang terbaik buat anak-anaknya. Setiap orangtua pasti juga punya metode merawat anak dengan cara terbaiknya. Sebagai sesama orangtua, bagaimana cara ia merawat dan mendidik buah hatinya, ia tetap mengalami kelelahan, semangat, kebahagiaan dan kecemasan yang sama dengan apa yang kita rasakan.

Mungkin ada satu hal dari pola asuh orangtua lain yang kita anggap kurang benar tapi ternyata ia punya segudang pola asuh yang terbaik lainnya tanpa kita ketahui. Atau sebaliknya, ada salah satu pola asuh orangtua lain yang kita anggap sangat mengesankan, tepat dan mengagumkan tapi ternyata itu tidak tepat diterapkan pada anak kita.

Kamis, 21 Februari 2019

4 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Beli Baby Car Seat

Baby Car Seat

Jakarta Sebagai orangtua kita tentu ingin memberikan segala yang terbaik buat buah hati. Selain agar buah hati merasa nyaman, memberi segala sesuatu yang terbaik ini juga agar buah hati senantiasa aman. Untuk itulah, sebelum membeli apapun itu buat buah hati, penting bagi kita untuk selalu memperhatikan kualitas apapun itu. Termasuk saat membeli baby car seat.
Baby car seat merupakan salah satu perangkat yang wajib dimiliki orangtua yang terbiasa mengajak buah hati bepergian menggunakan mobil. Dengan adanya baby car seat, orangtua tak perlu repot menggondong anak apalagi saat melakukan perjalanan jauh. Melansir dari laman parents.com, ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum membeli alat ini. Apa saja hal tersebut? Simak yang berikut ini.

Hal pertama yang perlu dilakukan sebelum membeli alat ini adalah posisi. Ketahui tipe dan posisi kursi mobil yang sesuai dengan baby car seat. Sebaiknya baca dulu manual book mobil untuk mengetahui baby car seat yang tepat untuk mobil.


Ada banyak tipe dan ukuran baby car seat yang ditawarkan di pasaran. Usahakan untuk mengetahui ukuran yang pas sesuai usia anak berat dan tingginya. Usahakan untuk mengetahui ukuran yang pas sesuai bentuk kursi mobil.


Jangan lengah untuk mengetahui keamanan alat ini. Agar lebih aman dan nyaman, pilih baby car seat yang dilengkapi dengan adjustable harness atau seat belt.


Cari tahu juga bagaimana cara untuk merawat baby car seat yang dipilih. Pilih alat ini yang mudah dibersihkan, mudah dirawat dan mengandung bahan-bahan yang aman untuk anak atau balita.
Itulah beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum membeli baby car seat. Semoga informasi ini bermanfaat.

Rabu, 20 Februari 2019

Ayah Ternyata Lebih Bahagia dalam Merawat Anak Dibanding Seorang Ibu

Ayah Ternyata Lebih Bahagia dalam Merawat Anak Dibanding Seorang IbuMemiliki anak dan keluarga ternyata menyimpan kebahagiaan yang lebih besar terhadap pria dibanding pada wanita. Hal ini terungkap dari sebuah penelitian terbaru yang dilakukan.


Dilansir dari The Health Site, penelitian ini dilakukan oleh University of California terhadap 18 ribu partisipan. Penelitian dilakukan terhadap tiga hal berbeda yaitu tingkat kegembiraan, kepuasan psikologis, serta gejala depresi dan stres yang muncul.
Dua penelitian pertama membandingkan kegembiraan antara orang tua dengan mereka yang tak memiliki anak. Dari penelitian tersebut diketahui bahwa seorang ayah memiliki kepuasan yang lebih besar terhadap kehidupan mereka serta merasa terhubung dengan orang lain.
Seorang ayah juga menunjukkan emosi positif yang lebih besar serta lebih sedikit cekcok dalam rumah dibanding ibu. Hasil yang serupa juga ditunjukkan jika dibandingkan terhadap mereka yang tak memiliki anak.
Tingkat gejala depresi yang yang ditunjukkan juga lebih sedikit terhadap pria yang tak memiliki anak. Hal yang berkebalikan terjadi pada wanita. Seorang ibu tampak menunjukkan gejala lebih depresi dibanding wanita yang tak memiliki anak.
Penelitian ketiga yang dilakukan melihat bagaimana menjadi orang tua dan bersikap baik ketika merawat dan berinteraksi dengan anak dibanding aktivitas harian lainnya. Ayah diketahui lebih gembira ketika merawat anak dibanding ketika ibu merawat anak.
Pada interaksi harian, pria dilaporkan memiliki kegembiraan yang lebih besar. Salah satu penjelasan dari hal ini adalah karena ayah mengasosiasikan diri mereka sedang bermain ketika merawat atau berinteraksi dengan dengan anak mereka. Hal yang berbeda terjadi pada ibu.
"Ayah mungkin melalui hal ini secara lebih baik dibanding ibu karena bagaimana mereka menanggapi bagaimana menghabiskan waktu dengan anak mereka," jelas Katherine Nelson-Coffey, Asisten Professor di Sewanee

Senin, 18 Februari 2019

Agar Buah Hati Tidak Cemburu Saat Punya Adik, Bagaimana Caranya?

Anak Ibu

Jakarta Orangtua mana yang tak bahagia ketika menyambut kehadiran buah hati keduanya dalam keluarganya. Bisa dipastikan bahwa semua orangtua merasa bahagia akan hal ini. Meski bahagia, tidak jarang orangtua akan merasa cemas dan khawatir pada buah hati pertamanya.
Banyak pengalaman yang menunjukkan bahwa tidak semua anak pertama bisa menerima kehadiran adiknya. Tidak semua anak pertama atau sulung merasa nyaman, bahagia dan antusias menyambut kelahiran sang adik. Beberapa bahkan akan sangat emosional dan merasa kurang diperhatikan. Tidak sedikit pula anak yang merasa cemburu dengan sang adik karena merasa orangtua lebih sayang dengan adiknya.

Mempersiapkan Anak Menyambut Sang Adik

Mengenai keadaan yang seperti ini, orangtua harus bagaimana? Melansir dari laman parenting.com, sebelum benar-benar merencanakan program kehamilan anak kedua, ketiga dan seterusnya, orangtua harus memastikan buah hati pertamanya siap akan hal itu.
Bicarakan baik-baik dengan anak pertama bahwa ia akan memiliki adik atau saudara baru. Di awal buah hati mungkin akan menolak. Cobalah untuk menasehatinya dan berikan pengertian lagi. Ceritakan hal-hal yang menggembirakan kepada anak ketika ia memiliki adik nanti. Bangun lagi kedekatan dengan anak. Yang terpenting, bangun kedekatan yang lebih baik antara anak dengan ayah agar saat sang adik lahir, orangtua bisa berbagi kasih sayang dengan lebih baik

Ketika anak kedua lahir, pastikan untuk tetap memberikan perhatian lebih pada anak pertama. Sesibuk apapun Sahabat Fimela maupun suami merawat anak kedua yang masih bayi, jangan pernah melupakan keberadaan anak pertama. Walau ia sudah besar dan bisa menjadi anak mandiri, ia tetap perlu perhatian dan kasih sayang kalian.
Membiarkan anak pertama mandiri dan mengerjakan semua sendiri, ini akan membuatnya merasa tersisihkan dan tidak disayang lagi. Jadi pastikan bahwa anak pertama tetap didampingi meski ia sudah bisa menjadi anak yang mandiri. Saat anak pertama merajuk, usahakan tidak memarahi apalagi bermain kasar padanya. Mengurus anak kedua yang masih bayi memang melelahkan, tapi ketika anak pertama membutuhkan bantuan atau perhatian orangtua, orangtua harus mau mengerti dan memahaminya.
Perubahan pola hidup sehari-hari setelah kelahiran adik kedua tidak jarang membuat anak merasa kurang nyaman dan bahkan tertekan. Jadi penting bagi orangtua untuk merubah pola hidup yang sudah ada sebelumnya apalagi merubah sikap. Kalau pun ingin merubah pola hidup, usahakan merubahnya dengan pelan-pelan dan pastikan buah hati pertama maupun kedua tetap nyaman dengan kondisi ini.

Rabu, 13 Februari 2019

Sejumlah Hal yang Dibutuhkan oleh Anak agar Tak Mudah Sakit

Sejumlah Hal yang Dibutuhkan oleh Anak agar Tak Mudah SakitKekurangan berat badan dialami oleh sekitar 2 dari 10 anak Indonesia. Kurangnya berat badan ini membuat mereka menjadi kekurangan sel darah merah dan lebih rentan sakit.


Sel darah merah, kata ahli gizi Saptawati Bardosono, dibutuhkan untuk membawa oksigen mengalirkan zat yang sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak. Kekurangan sel darah merah juga akan menyebabkan anak menjadi pendek.
"Terbukti bahwa 4 dari 10 anak itu sering mengalami infeksi saluran napas, batuk pilek panas secara berulang. Selain itu ada sekitar 1 dari 10 anak mengalami diare yang menghambat penyerapan makanan," kata Saptawati dalam gerakan '1 Juta Iya Boleh" dari Dancow di Jakarta beberapa saat lalu.
Ancaman terkena berbagai infeksi bisa terjadi ketika anak berada di luar rumah. Anak-anak yang bermain di luar rumah, katanya, 2-3 kali akan lebih tinggi terserang infeksi.
Infeksi yang berulang akan mengakibatkan tubuh membutuhkan lebih banyak zat gizi untuk bisa memerangi infeksi dan untuk tumbuh kembangnya.
Nutrisi berupa serat pangan yang bersifat prebiotik akan membuat bakteri baik di usus melindungi saluran pencernaan. Sehingga bisa menurunkan infeksi di saluran cerna dan pernapasan.
"Sistem pencernaan kita yaitu usus merupakan organ kekebalan tubuh terbesar, karena itu kita harus memodali anak dengan bakteri yang baik pada usus," kata dosen Departemen Nutrisi FKUI-RSCM Jakarta ini.
"Bakteri baik perlu dipelihara agar hidup terus, karena bakteri itu akan melindungi saluran cerna sehingga bisa menurunkan infeksi di saluran cerna dan saluran pernafasan. Selain itu bakteri yang baik di dalam usus akan meningkatkan daya tahan tubuh anak supaya tidak mudah sakit," sambungnya.
Selain itu, anak juga membutuhkan kalsium dan protein untuk pertumbuhan fisik mereka. Pertumbuhan fisik dapat ditandai dengan pertumbuhan otot dan tulang.
"Protein dan kalsium bisa didapatkan dari makanan, tidak perlu dengan suplemen. Biasanya orang tua akan memberikan susu pada anaknya sebagai makanan selingan di antara waktu makan," tandasnya.

Senin, 11 Februari 2019

3 Langkah Redakan Demam pada Bayi

20160311-Ilustrasi Bayi-istockDemam adalah kondisi yang biasa dialami bayi dan anak-anak. Apalagi bayi yang masih mendapatkan vaksinasi. Ibu tak perlu resah ketika bayi demam, umumnya bayi akan demam usai divaksin. Simak pengalaman Mommy Regina Fiardini dari Babyologist ketika merawat buah hati.
Beberapa hari yang lalu, anak saya mengalami demam usai vaksin DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus). Selang enam jam setelah disuntik, suhu tubuh Sofia naik menjadi 38,1 derajat celcius

Meski suhu tubuhnya hangat, namun Sofia tidak rewel sama sekali. Hanya saja ketika tidur, dia sering terbangun dan suka kaget sendiri, padahal suasana di sekitarnya hening.
Kala itu, saya tidak mau buru-buru memberi paracetamol kepadanya. Meski sudah diresepkan dokter, tapi saya tidak tega memberi obat-obatan kepada anak berusia dua bulan.
Saya justru melakukan cara di bawah ini untuk menurunkan demam Sofia:

ASI yang Moms miliki itu bermanfaat banget lho buat anak, salah satunya untuk menambah sistem imun. Makin sering disusui, maka akan membantu bayi melawan efek samping vaksin pada tubuh sehingga demamnya berkurang.

Begitu pulang dari rumah sakit, saya langsung skin to skin contact dengan Sofia. Caranya, Moms bisa menggunakan daster dengan kancing bukaan depan, kemudian letakkan bayi yang hanya menggunakan popok di dada dengan posisi tegak. Sebab ketika si bayi demam, secara otomatis suhu tubuhnya akan mencari permukaan lain yang lebih dingin, yakni kulit ayah atau ibu.
Nah dengan skin to skin ini, maka panas bayi terserap oleh orang tua, sehingga demamnya perlahan-lahan akan menghilang.

Setelah vaksin, bayi terkadang menjadi rewel karena merasa nyeri. Untuk mengurangi rasa sakitnya, Moms dapat mengompres bagian tubuh yang habis disuntik menggunakan air hangat.
Kemudian, air hangat tersebut juga bisa dipakai untuk mengompres bagian dahinya. Tapi saat itu, saya kompres Sofia pakai plester penurun panas merek Bye Bye Fever yang dibeli di minimarket agar praktis.

4 Manfaat Mengemut Tangan bagi Bayi

Bayi MeninggalKebiasaan mengemut tangan dimiliki oleh semua bayi. Begitu pula dengan putra Mommy Mellifika Yap dari Babyologist. Adakah manfaat mengemut tangan bagi bayi?
Pernahkah Moms melihat bayi yang senang mengemut tangannya sampai seperti mau muntah? Atau hal itu yang sedang dialami bayi Moms saat ini?

Kebiasaan ini yang terjadi saat Haelson berusia hampir 3 bulan. Tiba-tiba ia senang mengemut tangan mungilnya. Awalnya lucu melihatnya melakukan hal tersebut. Namun lama-kelamaan ada sedikit perasaan khawatir juga melihatnya mengemut tangan sampai seperti mau muntah.
Nah, ternyata mengemut tangan adalah salah satu fase oral yang dialami setiap bayi. Biasanya bayi berusia 3 bulan keatas akan mengalami hal ini.
Lalu sebaiknya dilarang atau dibiarkan saja bayi mengemut tangannya?Biarkan saja. Karena ini fase yang cukup penting untuk bayi. Saat bayi mengemut tangan, ada beberapa manfaat yang ia dapatkan.

Bereksplorasi Saat bayi memasukkan tangan, lidah dan rahangnya akan bergerak. Ini akan merangsang perkembangan motorik mulutnya.

Saat ini terjadi, bayi akan belajar dan tahu bahwa ia memiliki tangan yang bisa digerakkan. Ia akan belajar bentuk, warna dan bau dari tangan kecilnya. Bahkan bayi sangat senang mengamati tangannya sendiri. Dan ketika saya mencoba menyembunyikan tangan Haelson dengan sarung tangan, ia akan terlihat kebingungan karena tidak menemukan kedua tangannya. Lalu ia akan senang ketika sarung tangan dibuka dan tangannya kembali terlihat.

Di awal kehidupan, refleks muntah bayi itu berada di depan mulut. Pada saat ia memasukkan tangan ke mulutnya, secara tidak sengaja ia makan mendorong refleks muntah ke belakang. Sehingga saat ia terlihat seperti ingin muntah, biarkan saja karena itu adalah prosesnya. Dia akan terus mencoba sampai refleks muntahnya pindah ke belakang.

Ternyata kebiasaan mengemut tangan sudah ada ketika bayi di dalam perut. Pernah beberapa kali saat USG kehamilan, Haelson terlihat sedang mengemut. Maka dari itu, mengemut tangan saat mereka sudah lahir membuat mereka merasa tetap aman dan nyaman.
Jadi sebaiknya jangan melarang bayi yang sedang dalam fase suka mengemut tangan ya Moms. Karena suatu saat hal ini akan berhenti sendiri. Namun mengemut tangan dan juga mengemut jari beda loh Moms. Jika bayi mengemut jari, sebaiknya hentikan kebiasaan ini karena mengemut jari bisa membuat mereka kebiasaan sampai dewasa.
Semoga bermanfaat.