816Agent
816WIN

Bandar Bola 816agent

Bandar Bola 816agent

Judi Bola

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Prediksi Bola 816Agent

Prediksi Bola

Senin, 27 Januari 2020

Terperosok ke Jurang Bersama Alat Berat, Mandor Perusahaan Kayu di Berau Tewas

Terperosok ke Jurang Bersama Alat Berat, Mandor Perusahaan Kayu di Berau Tewas

Riadi (58), mandor perusahaan perkayuan di Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, pagi tadi ditemukan tewas di jurang sedalam lebih 25 meter. Tangannya nyaris putus setelah terperosok bersama alat berat Wheel Loader yang dia kemudikan.
Peristiwa itu terjadi sekira pukul 07.30 Wita. Kejadian itu pertama kali diketahui 2 karyawan lain, yang melintas menggunakan mobil. Keduanya melihat bekas ban Wheel Loader, mengarah ke jurang di KM 50 sekitar basecamp perusahaan.
"Begitu dicek, Wheel Loader dan korban bernama Riadi ini ada di bawah jurang. Korban kondisi meninggal dunia," kata Kapolsek Kelay AKP Sutrisno, dikonfirmasi wartawan di Tanjung Redeb, Minggu (26/1).
Sutrisno menerangkan, kejadian itu dilaporkan ke perusahaan, hingga akhirnya sampai ke Polsek Kelay. "Korban ini adalah mandor perusahaan," ujar Sutrisno.
Dari penyelidikan di lokasi kejadian, diduga kuat korban Riadi kehilangan kendali saat mengemudikan Wheel Loader itu. "Sopir atau drivernya tidak ada. Korban ini kan mandor, jadi Wheel Loader itu dipakai sendiri," terang Sutrisno.
"Karena bukan ahlinya, diduga kejadiannya seperti itu. Karena hari Minggu, driver nggak hadir. Ya itu tadi, dipakai sendiri," tambah Sutrisno.
Dijelaskan Sutrisno, kondisi jurang di lokasi kejadian, benar-benar curam. "Kondisinya (korban) remuk, karena jurangnya benar-benar dalam. Mengambil gambar dari atas saja, Wheel Loader-nya nggak kelihatan. Jadi, harus turun ke bawah," sebut Sutrisno.
Jenazah Riadi, yang kesehariannya tinggal di basecamp perusahaan, dibawa ke rumah sakit untuk divisum. "Dua saksi yang menemukan pertama kali itu, sudah kita mintai keterangan," demikian Sutrisno. 

WN China dan Penerjemahnya Suspect Corona Dirawat di RSHS

WN China dan Penerjemahnya Suspect Corona Dirawat di RSHS

Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung kedatangan pasien diduga suspect virus corona. Penanganan dilakukan secara intensif hingga menggunakan ruang isolasi.
Dari informasi yang berhasil dihimpun, ada dua pasien yang diterima di RSHS. Satu orang merupakan warga China berusia 31 tahun yang baru kembali dari negaranya. Satu lagi pasien warga negara Indonesia.
Mereka dirujuk dari Rumah Sakit Kawaluyaa, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat pada Minggu (26/1). Saat ini, warga China tersebut sudah berada di ruang isolasi rawat inap setelah mendapat penanganan di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Sedangkan warga negara Indonesia masuk melalui IGD, namun langsung masuk rawat inap RSHS.
"Sorenya sudah (WNA) dipindah‎ ke isolasi rawat inap. Soal pekerjaannya (berhubungan dengan proyek KCIC) belum tahu," kata Kepala IGD RSHS Bandung, dr Tommi.
Dugaan pasien terjangkit virus corona karena berdasarkan surat rujukan, bahwa pasien mengalami demam hingga menggigil disertai sakit tenggorokan. Sedangkan warga negara Indonesia yang diduga sebagai translatornya (penerjemah) diperiksa karena dikhawatirkan ikut terjangkit.
"(Pasien WNA) Ada riwayat pulang dari China. Tadi saat terima rujukan, tim saya langsung menggunakan pakaian khusus," kata dia.
Sementara itu, Kepala Sub Bagian Humas RSHS Reny Meisuburryani menyatakan pasien suspect corona tersebut sudah ditangani di Ruang Infeksi Khusus Kemuning (RIKK). Hanya saja, semua keterangan mengenai hal ini akan disampaikan secara resmi pada Senin (27/1) pagi.

Wisatawan Asal Hong Kong di Raja Ampat Dicurigai Terserang Corona

Wisatawan Asal Hong Kong di Raja Ampat Dicurigai Terserang Corona

Seorang wisatawan asal Hong Kong berinisial YP yang berkunjung ke Raja Ampat, Provinsi Papua Barat, diduga terinfeksi virus Corona. Saat ini YP dirawat di Rumah Sakit Sele be Solu kota Sorong.
Direktur Rumah Sakit Sele be Solu, dr Mavkren J Kambuaya mengatakan, pasien tersebut awalnya menyelam di Raja Ampat dan sakit demam dan panas kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Pertamina Sorong pada 25 Januari 2020, dikutip dari Antara, Senin (27/1).
Menurut dia, penanganan pasien tersebut adalah memberikan obat penurun panas dan demam dan panas pasien tersebut sudah berkurang.
Dikatakan, guna mengetahui apakah pasien tersebut terinfeksi corona, Rumah Sakit berkoordinasi dengan pihak karantina kesehatan dan dinas kesehatan guna melakukan pemeriksaan lanjutan.
Dia menjelaskan, guna mengetahui apakah pasien tersebut terinfeksi virus Corona maka harus pemeriksaan tenggorokan dan hasilnya dikirim ke Jakarta.
Dia menyampaikan pasien tersebut akan diisolasi 7-14 hari guna pemeriksaan lebih lanjut. Ia meminta masyarakat tidak perlu khawatir karena kasus ini masih dugaan terinfeksi virus corona.

Gara-gara SMS Mesra, Kasus Siswi SMA Jadi Budak Seks Ayah Tiri Terbongkar

Gara-gara SMS Mesra, Kasus Siswi SMA Jadi Budak Seks Ayah Tiri Terbongkar

Nasib AN (16), siswi SMA di Berau, Kalimantan Timur, sungguh memilukan. Tiga tahun ini, dia jadi budak seks ayah tirinya, Ab (41). Bahkan, AN juga jadi korban perilaku biadab ayah kandungnya, sejak duduk di bangku SD. Ab ditangkap, dan kini meringkuk di penjara polisi.
Ab ditangkap Sabtu (25/1), setelah ibu kandung korban AN, melapor sehari sebelumnya, Jumat (24/1). Kasus itu terbongkar, gara-gara ibu korban melihat isi SMS ponsel suaminya, Ab, yang juga ayah tiri AN.
"Jadi, hari Jumat malam kemarin itu, pelaku dan istrinya, ibu kandung korban, sedang rebahan di depan TV. Pelaku ketahuan sedang sibuk SMS-an mesra dengan anak tirinya," kata Kapolres Berau AKBP Edy Setyanto Erning, di Tanjung Redeb, Berau, Minggu (26/1).
Edy menerangkan, sang ibu pun bergegas pergi ke kamar putrinya, dan memang melihat isi SMS handphone putrinya dengan suaminya. "Kita amankan pelaku hari Sabtu (26/1)," ujar Edy.
Edy menerangkan, dari situ terungkap, pelaku Ab berulang kali menyetubuhi anak tirinya, AN, sejak di bangku SMP di tahun 2017 lalu. Baik itu sepulang maupun saat akan berangkat sekolah, di tanah kosong maupun di sebuah pondok.
"Setelah korban pertama kali (tahun 2017) ditiduri pelaku, kemudian sampai saat ini, pelaku bisa 2 kali seminggu pelaku meniduri korban," sebut Edy.

Sejak SD Diperkosa Ayah Kandung

Dijelaskan Edy, dari pemeriksaan korban, korban merasa diperhatikan oleh pelaku, dan merasa nyaman, sehingga mau ditiduri ayah tirinya. "Pengakuan korban juga, dulu ayah kandungnya suka marah-marah, dan memukul," ungkap Edy.
"Pernah juga ayah kandung korban, meniduri korban yang saat itu masih SD. Sekarang, ayah kandungnya diproses hukum dan divonis 12 tahun penjara terkait kasus lain, di luar Berau," jelas Edy.
Pelaku Ab, ditetapkan tersangka, dan kini dijebloskan ke penjara. Dua ponsel pelaku dan korban, diantaranya jadi barang bukti. "Penyidik menerapkan UU No 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak," tutup Edy.

Dilaporkan Hilang, Gadis 16 Tahun di Depok Dijadikan PSK

Dilaporkan Hilang, Gadis 16 Tahun di Depok Dijadikan PSK

Satuan Reserse dan Kriminal Polres Metro Depok kembali menyelamatkan anak di bawah umur dari praktik prostitusi. Korban adalah AP (16) yang berhasil diselamatkan di sebuah apartemen di Depok.
Kasus ini terungkap bermula dari adanya laporan anak hilang pada Rabu (2/1). Saat itu N (36), ibu korban melapor ke polisi perihal kehilangan anak.
"Awalnya adalah laporan anak hilang. Terakhir kali, korban pergi dari rumah dan diketahui berada di Kp. Taman Induk Kec. Cipayung, Depok. Ini adalah lokasi terakhir korban pergi," kata Kasubbag Humas Polrestro Depok, AKP Firdaus, Senin (27/1).
Dari laporan tersebut kemudian petugas melakukan pendalaman. Dari keterangan awal diketahui bahwa korban diduga pergi bersama seorang laki-laki yaitu AIR saat meninggalkan rumah.
"Informasi yang didapat bahwa korban kenal dengan seorang laki-laki melalui Facebook," ungkapnya.
Setelah berkenalan, keduanya janjian untuk bertemu. Lalu keduanya sepakat bertemu di salah satu apartemen di Depok. Namun korban dilaporkan tidak pulang berhari-hari.
"Setelah ditunggu beberapa hari tidak pulang, orang tua korban mendapat informasi bahwa nomor handphone korban digunakan dalam aplikasi dengan menawarkan jasa," katanya.
Berdasarkan hasil penyelidikan diketahui korban berada di kamar 28K salah satu apartemen. Sedangkan AIR di kamar 30F.
"Petugas kemudian berkoordinasi dengan pihak penjaga apartemen melakukan pengamanan terhadap korban dilantai 28 bersama Pachrul Rozy. Saat itu juga di amankan juga AIR, BS dan JFM dilantai 30F," ujarnya.
Petugas pun melakukan pendalaman informasi terhadap saksi. Serta mengamankan HP para saksi.
"Diamankan juga alat kontrasepsi (kondom)," pungkasnya.

Sabtu, 25 Januari 2020

Saat Imlek Jadi Ajang Pemersatu Lewat Bogor Street Festival

Saat Imlek Jadi Ajang Pemersatu Lewat Bogor Street Festival

Imlek identik dengan hari raya warga keturunan Tionghoa. Di Bogor, Imlek memiliki makna menjaga keberagaman lewat gelaran Bogor Street Festival Cap Go Meh. Acara tersebut digelar setiap dua pekan setelah perayaan Imlek.
Bogor Street Festival Cap Go Meg 2020 digelar pada Sabtu, 8 Februari dengan mengusung tagline 'Ajang Budaya Pemersatu Bangsa' dengan tema 'Looking Eastward'.
"Bukan hanya soal budaya, bukan juga tentang upacara. Tapi ini tentang nilai-nilai yang kita yakini dari masa ke masa, diturunkan dan kita jaga terus ke depan, bersama dalam keberagaman. Berbeda adalah keniscayaan, beragam adalah keharusan tapi kebersamaan harus diperjuangkan," kata Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto.
Bogor Street Festival merupakan satu dari tiga event jagoan Kota Bogor untuk menarik wisatawan. Selain Bogor Street Festival, dua event lainnya yakni Gelaran Seni dan Budaya dalam rangka Hari Jadi Bogor dan Festival Merah Putih sepanjang Agustus dalam memperingati Hari Kemerdekaan.
"Dari tahun ke tahun, antusiasmenya semakin kuat. Kami pemerintah daerah akan selalu mendukung," kata dia.
Kata Bima, Bogor Street Festival 2020 akan terasa lebih spesial karena telah masuk 100 event pariwisata unggulan dalam Calendar of Event (CoE) Wonderful Indonesia dari Kementerian Pariwisata.
Sementara Ketua Pelaksana Bogor Street Festival 2020, Arifin Himawan mengungkapkan dengan tagline 'Ajang Budaya Pemersatu Bangsa' bertema 'Looking Eastward', ajang tahun ini masih mengusung soal keberagaman budaya.
"Tentu dengan konsep yang lebih kuat. Tata panggung dan pencahayaan yang semakin baik. Peserta akan semakin banyak, dari daerah lain dan negara lain juga akan hadir," kata Arifin.

Sejarah yang Panjang

Perayaan Cap Go Meh telah dirayakan di Indonesia sejak awal abad ke-16, sejak komunitas Tionghoa Buitenzorg membangun Klenteng Hok Tek Bio di Bogor.
Kemudian pada tahun 1954, Presiden pertama Indoenesia Soekarno mengundang arak-arakan Tapekong dan Ceng Ge ke Istana Bogor untuk menghibur presiden dan tamu negara. Pada masa itulah Cap Go Meh mengalami kejayaan.
Tahun 2008, merupakan tahun bersejarah bagi event Cap Go Meh di Bogor. Untuk pertama kalinya gagasan street festival muncul dan event Cap Go Meh menjadi festival Kota Bogor.
Liong, Barong dan kesenian daerah mulai meramaikan Cap Go Meh yang mengusung pesta budaya dengan arak-arakan yang dimulai dari Balai Kota Bogor.
Dari tahun ke tahun, event Cap Go Meh mengalami perkembangan dan peningkatan baik dalam jumlah pengisi acara atau pun pengunjung yang hadir.
Bahkan, event ini sempat tercatat dalam rekor MURI. Yakni pada tahun 2007 sebagai event dengan jumlah liong dan barong terbanyak. Kemudian pada tahun 2010 mendapatkan rekor dari MURI sebagai liong terpanjang dengan 50 meter yang dimainkan oleh 15 orang.
Perayaan Cap Go Meh yang dijadikan sebagai festival Kota Bogor mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Pusat.
Di mana pada tahun 2012, untuk pertama kalinya festival ini diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat. Puncaknya pada 2015 lalu, kejutan datang saat Presiden Joko Widodo hadir dalam acara ini di Jalan Suryakencana.
Akulturasi kebudayaan yang ditampilkan pada festival Cap Go Meh dari tahun ke tahun semakin beragam. Jika pada tahun sebelumnya hanya menampilkan kebudayaan Tionghoa, kemudian dipadukan dengan kebudayaan Sunda.
Mulai tahun 2014, Cap Go Meh mengangkat kebudayaan Nusantara yang ditampilkan dalam pawai budaya. Kesuksesan dari tahun 2014 ini menjadikan Cap Go Meh menjadi agenda nasional.
Kemudian atraksi barongsai dan liong, dilengkapi dengan panggung hiburan yang diisi dengan wayang dan penampilan dari sanggar binaan dari Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

'Cina Benteng' Tangerang dalam Alur Sejarah Nusantara

'Cina Benteng' Tangerang dalam Alur Sejarah Nusantara

Kejayaan bahari Nusantara menjadi daya tarik bangsa China untuk datang. Tidak hanya pulau-pulau dengan hasil bumi yang kaya, Tangerang, sebagai bagian teluk Batavia saat itu juga tidak luput dari kehadiran etnis Tionghoa.
Melalui jalur laut, sekitar abad ke-15, kapal dagang China juga menepi di Teluknaga, Tangerang dan terus menyebar hingga ke pinggiran wilayah Serpong mengikuti jalur Sungai Cisadane.
Seiring berjalannya waktu, proses asimilasi terjadi dan melahirkan komunitas peranakan China khas Tangerang, yang lebih dikenal dengan sebutan China Benteng (Ciben).
Sekelumit cerita itu, mengawali perbincangan merdeka.com saat bertemu dengan tokoh sepuh Pecinan Benteng, Tjin Eng (74) di kawasan Pasar Lama, Kota Tangerang.
Dia kemudian mengisahkan, sebutan Benteng, yang disematkan pada warga peranakan di Tangerang, memiliki nilai historis panjang.
Singkat cerita kala itu, penamaan Benteng (fort), yang dibangun sekira abad ke-16 oleh Pemerintahan Belanda yang dikenal masyarakat pribumi dengan sebutan Benteng Makasar. Merupakan pembatas wilayah kesultanan Banten dengan VOC yang beririsan dengan aliran Sungai Cisadane.
"Pada sisi barat sungai itu wilayah kekuasaan Banten dan sebelah Timurnya itu kekuasaan Belanda," kata Tjin Eng.
Pada tahun itu, kemudian VOC mengizinkan warga sekitar Benteng untuk membuka lahan pertanian di sekitar perairan Sungai Cisadane. "Kesempatan itu juga dimanfaatkan warga peranakan yang pandai bertani, untuk mendiami lahan di sekitar Benteng. Begitulah kemudian sebutan Cina Benteng melekat pada peranakan Tionghoa di Tangerang, sampai hari ini," kata Pria yang akrab disapa Engkong.
Berdasarkan catatan pada kitab Sunda Tina Layang Parahyang, Sebenarnya jauh sebelum kedatangan Belanda ke Indonesia, sesepuh pengurus Klenteng Boen Tek Bio Pasar Lama Tangerang ini menerangkan, muasal kehadiran etnis Tionghoa mendiami tanah Pasundan-Banten-Tangerang.
Waktu itu, tepatnya tahun 1407 bersandar perahu Junk, di bawah pimpinan Chen Ci Lung ke muara Sungai Cisadane, di kawasan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Perahu itu diisi sekitar 100 orang Tiongkok, termasuk di antaranya sejumlah wanita China asli yang cantik.
Sementara kawasan Teluknaga, di bawah kerajaan Pajajaran yang dipimpin Sanghyang Anggalarang meminta 9 gadis Tiongkok cantik di antara rombongan Chen Ci Lung untuk dinikahi para prajurit kerajaan.
"Sanghyang menawarkan untuk mempersunting wanita-wanita asal Tiongkok ini dengan kompensasi sebidang tanah dari wilayah kekuasaannya. Begitu juga dengan pria Tiongkok yang juga menikahi penduduk asli setempat. Hasil dari pernikahan itu disebut dengan peranakan Tionghoa dan cikal bakal Cina Benteng," lanjut Engkong.
Seiring waktu, Benteng kokoh yang pernah menjadi saksi bisu kekuasaan Pemerintahan Belanda dan kejayaan ekonomi perairan warga Cina Benteng Tangerang, saat ini sudah tidak ada lagi, Benteng itu berubah menjadi sebuah pusat perbelanjaan berkelas di Tangerang, dengan sebutan Pasar Lama.
"Jadi tidak ada bukti otentik lagi soal Benteng Makasar, sudah terkikis karena abrasi," ungkap dia.
Saat ini, tinggal tiga bangunan Klenteng, Boen Tek Bio (pasar lama), Boen Hay Bio (pasar baru), dan Boen San Bio (Serpong), yang masih tersisa sebagai bukti eksistensi keberadaan peranakan Tionghoa di Tangerang.
"Cina Benteng itu di sini, (peranakan China Pasar Lama), karena sebutan Benteng itu memang dulu ada Benteng di sini, kemudian ada yang mendiami Sewan, Cisoka, Serpong dan lainya memang bagian Peranakan Cina yang asalnya dari Teluknaga juga," ujar Engkong.
Seiring waktu dan perkembangan kemajuan zaman, pekerjaan-pekerjaan yang sebelumnya menjadi ciri Pecinan Benteng Tangerang juga mengalami perubahan. Bisa dipastikan, tidak ada lagi warga Pecinan Benteng yang menggantungkan hidup sebagai petani dan nelayan.
"Peranakan yang tinggal di Teluk Naga, memang masih ada yang melaut atau nelayan, karena memang dekat laut. Tapi yang di sini (pasar lama) Sungai Cisadane, lama sudah tidak dimanfaatkan warga untuk memenuhi kebutuhan hidup. Apalagi generasi sekarang, mereka lebih memilih kerja di kantoran," ujar Tjin Eng.
Secara sosial dan agama, warga Cina Benteng dan masyarakat Pribumi asli Tangerang, hidup berdampingan. Keharmonisan sesama antar suku, etnis, agama, budaya, dan seni menjadi satu.
"Terlihat dari kerukunan agama yang terjalin, keserasian dalam bertetangga dan kerja sama saling menguntungkan tercipta sejak ratusan tahun lalu," ucap dia.
Beberapa Cina Benteng, kata Engkong juga telah berpindah keyakinan dengan memeluk agama lain seperti Islam, Hindu, Buddha dan Kristen. Meski tetap tidak meninggalkan tradisi nenek moyang dengan teguh menjaga tradisi dan kebudayaan leluhur.
"Agama sudah berganti, tetap saja dia tidak melupakan tradisi lama. Seperti dalam perayaan Imlek dan lainnya. Itu pasti mereka lakukan. Jadi kalau perayaan kebudayaan seperti Imlek itu hanya oleh agama Konghucu. Kalau pemeluk agam Islam, Kristen dan lainnya itu hanya kebudayaan leluhur," kata dia.
Tjin Eng juga menerangkan, akulturasi budaya Nusantara kental terhadap masyarakat Ciben.
"Cina Benteng ini kental terhadap akulturasi budaya, bahasa Ibunya itu ada Sunda, itu sangat kental. Ada Bahasa Tionghoa, Jawa, Betawi dan Makassar. Misalnya lontong Cap Go Meh, tidak ada orang Jawa itu bikin lontong, itu (lontong) dibuat oleh Nyai, jadi Nyai itu yang mengenalkan Lontong Cap Go Meh, misal ada pesta, itu ada Ancak, di pendaringan ada sajian ayam bekakak, kopi hitam, kopi manis, kue-kue, lisong, itukan budaya lokal yang asli lahir dari percampuran Tionghoa dan Nusantara," ucapnya.